Struktur Ekonomi, Pertentangan kelas, dan Perubahan Sosial: Teori Sosial Karl Marx

Posted: December 6, 2012 in Teori Komunikasi

Kehidupan individu dan masyarakat kita didasarkan pada asas ekonomi. Ini berarti institusi-institusi politik, pendidikan, agama, dan sebagainya bergantung pada tersedianya sumber-sumber ekonomi. Juga berarti bahwa institusi ini tidak dapat bertentangan dengan system ekonomi. Dasar ekonomi ini dilihat Marx sebagai “infrastruktur” diatas “suprastruktur” sosial dan budaya yang lainnya dan harus menyesuaikan diri dengannya.

Pusat perhatian Marx adalah pada tingkat struktur social, bukan pada tingkat kenyataan social budaya. Marx memusatkan perhatiannya pada cara orang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisiknya, juga melihat hubungan-hubungan social yang muncul dari penyesuaian ini dan tunduknya aspek-aspek kenyataan social dan budaya pada asas ekonomi ini.

Riwayat Hidup Marx

Marx berasal dari keluarga rabbi Yahudi, tetapi ayahnya memutuskan untuk masuk Protestan demi kariernya. Bagi Marx sendiri, kepercayaan-kepercayaan agama tidak memberikan pengaruh paling penting terhadap perilaku, tetapi kepercayaan-kepecayaan agama itu mencerminkan factor-faktor social-ekonomi yang mendasar.

Saat marx pindah ke Universitas Berlin, beberapa unsur dasar teori sosialnya mulai dibentuk sebagai akibat hubungannya dengan kelompok Hegelian muda. Seperti Hegel, Marx tetap menggunakan analisa dialektik yang meliputi kepekaan terhadap kontradiksi-kontradiksi internal dan perjuangan antara ide-ide lama dengan ide-ide baru serta bentuk-bentuk social, tetapi dia menolak idealisme filosofis dan menggatikannya dengan pendekatan materialistik.

Sesudah menyelesaikan disertasi doktornya, Marx menjadi pemimpin redaksi surat kabar borjuis liberal yang bernama Rheinishe Zeitung. Daripada hanya mendukung gerakan-gerakan borjuis, dia memperjuangkan gerakan-gerakan petani dan orang miskin. Setelan menikah, dia dan mempelai wanitanya pindah ke Paris.

Selama tinggal di Paris, Maex terlibat dalam kegiatan-kegiatan radikal. Tanggapan Marx terhadap ide-ide radikal ini dipengaruhi oleh keyakinak yang sudah dia kembangkan dalam hubungannya dengan kaum Hegelian muda. Keyakinan-keyakinan ini akhirnya membuat dia menolak asumsi bahwa penyalahgunaan system kapitalis yang meluas itu dapat dihilangkan oleh suatu perubahan sosialis yang hanya didukung oleh elit intelektual.

Selama Marx masih di Paris, dia bertemu dengan Friedrich Engels yang menjadi kawan kerja yang dekat sampai Marx meninggal. Mereka memulai karya mengenai suatu interpretasi komprehensif tentang perubahan dan perkembangan sejarah sebagai alternative terhadap interpretasi Hegel mengenai sejarah. Dalam interpretasi mereka, kondisi-kondisi materil dan hubungan-hubungan social yang muncul dari kondisi-kondisi itu merupakan dasar perkembangan intelektual yang mendorong perubahan sejarah, bukan munculnya ide atau pertumbuhan akal budi.

Merx diusir dari Paris karena tekanan dari pemerintah Prusia yang terganggu oleh tulisan-tulisan Marx yang berbau sosialis. Akhirnya Marx tinggal di Brussel diamana dia tenggelam dalam kegiatan-kegiatan sosialis internasional.

Setelah melewati berbagai macam kegiatan-kegiatan sosialis internasional, Marx akhirnya menetap di London. Karya yang paling penting dihasilkan Marx selama tinggal di London adalah Das Kapital. Secara keseluruhan, pusat perhatian Das Kapital adalah kontradiksi internal dalam sistem kapitalis. Das Kapital adalah usaha Marx untuk memberikan suatu analisa sejarah yang obyektif dan jangka panjang mengenai kekuatan-kekuatan dialektis dalam kapitalisme yang menjamin kehancuran terakhir. Karyanya itu juga dimaksudkan sebagai satu kritik terhadap teori-teori ortodoks mengenai ekonomi politik, dengan asumsi-asumsi individualistiknya, implikasi-implikasi politik laissez-faire-nya, serta optimismenya yang bersifat naïf mengenai konsekuensi-konsekuensi jangka panjang yang menguntungkan dalam suatu pasar bebas yakni ekonomi kapitalis.

Materialisme Historis Marx

            Dari The Comunnist Manifesto dan Das Kapital, secara tradisional telah diasumsikan bahwa tekanan utama Marx adalah pada kebutuhan materil dan perjuangan kelassebagai akibat dari usaha-usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini.

Marx sangat menekankan pentingnya kondisi-kondisi materil yang bertentangan dengan idealisme Hegel, tetapi dia tidak menyangkal kenyataan kesadaran subyektif atau peranan penting yang mungkin ikut menentukan dalam perubahan social.

Kelemahan-Kelemahan Filsafat Abstrak Tradisional

Tekanan Materialisme Marx harus dimengerti sebagai reaksi terhadap interpretasi idealistic Hegel mengenai sejarah. Marx menolak filsafat sejarah Hegel karena menghubungkannya dengan evolusi ide-ide sebagai suatu peranan utama yang berdiri sendiri dalam perubahan sejarah. Dalam pandangan ini, teori-teori idealistic, seperti teori Hegel, mengabaikan kenyataan bahwa ide-ide tidak ada secara terlepas dari orang-orang yang benar-benar hidup dlam lingkungan materiil dan social yang riil.

Pemikiran tentang sifat dunia ide sebagai kekuatan yang berdiri sendiri terpisah dari kondisi-kondisi materil praktis, tumbuh dari pemisahan antara pekerja kasar dan pekerja otak.

Konsep materialis Marx untuk pertama kalinya dijelaskan dalam The German Ideology. Tema pokok ndalam karyanya ini adalah bahwa perubahan-perubahan dalam bentuk-bentuk kesadara, ideology-ideoligi, atau asumsi-asumsi filosofis mencerminkan perubahan-perubahan dalam kehidupan social dan materil manusia. Namun demikian, dunia kesadaran subyektif dan ide-ide budaya, tidak hanya suatu cerminan lingkungan materil dan social.

Penjelasan Materialistis Tentang Perubahan Sejarah

Penekanan Materialistis ini berpusat pada perubahan-perubahan cara produksi materil sebagai sumber utama perubahan social dan budaya. Perubahan-perubahan ini dapat muncul dari usaha-usaha untuk meningkatkan strategi-strategi yang ada dalam menghadapi lingkungan materil dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan baru yang muncul dengan lebih efisien.

Dalam The German Ideology, Marx menelusuri prubahan-prubahan utama kondisi-kondisi materil dan cara-cara produksi di satu pihak  dan hubungan-hubungan social serta norma-norma pemilikan di lain pihak. Maksudnya adalah untuk menunjukan bahwa manusia menciptakan sejarahnya sendiri selama mereka berjuang menghadapi lingkungan materilnya, tetapi kadang kala kemampuan manusia untuk menciptakan sejarahnya sendiri itu di batasi oleh lingkungan materil yang sudah ada.

Visi Marx mengenai masyarakat komunis masa depan sangatlah idealistis. Dia tidak menganjurkan hancurnya dasar materil yang diberikan oleh kapitalisme borjuis, tetapi dia mengangan-angankan pemilikan daya-daya produksi masyarakat secara komunal, dan suatu distribusi yang lebih merata yang didasarkan pada kebutuhan manusia, bukan kerakusan borjuis.

Infrastruktur Ekonomi dan Suprastruktur Sosio-Budaya

Seperti yang telah kita ketahui, individu terpaksa mengubah lingkungan materilnya melalui kegiatan produktif untuk dapat bertahan hidup. Tetapi alat-alat produksi tidak tersebar merata di masyarakat. Ini berarti mereka yang tidak memiliki alat produksi,harus menjalin hubungan social dengan yang memiliki. Hasilnya adalah, suatu diferensiasi anggota-anggota masyarakat dalam kelas-kelas social-ekonomi.

Tekanan yang terus dikemukakan Marx adalah struktur ekonomi masyarakat (alat produksi dan hubungan social dalam produksi) merupakan dasar yang sebnarnya. Semua institusi social lainnya didirikan atas dasar ini dan menyesuaikan diri dengan dasar ekonomi ini.

Akibat-akibat “Kesadaran Palsu” dalam Mendukung Struktur Ekonomi

Fungsi ideology yang mengganti dan menyesatkan itu sangat jelas dalam analisa Marx mengenai agama. Marx mengemukakan bahwa tekanan agama tradisional pada dunia transenden, nonmaterial, dan harapan akan hidup sesudah mati, membantu mengalihkan perhatian orang dari penderitaan fisik dan kesulitan materil dalam hidup ini. Tambahan, cita-cita agama tradisional adalah membalikan prioritas-prioritas alamiah dengan mengemukakan bahwa penderitaan dan kesulitan mempunyai nilai rohani positif bila dijalankan dengan sabar. Kekayaan materil, status duniawi, dan kekuasaan dilihat sebagai ilusi yang fana dan sangat berbahaya untuk kesejahteraan rohani individu dan pahalanya kelak. Ini merupakan dasar sindiran Marx yang tajam mengenai agama yang merupakn “candu bagi manusia”.

Marx juga menggunakan tipe analisa yang sama dalam mengkritik ideology-ideoligi politik dan struktur negara. Marx melihat Negara sebagai suatu kompensasi terhadap ketegangan-ketegangan yang muncul dari pembagian kerja. Dalam kekuasaannya dalam menegakkan hokum dan dalam fungsinya untuk menegakkan kebijakan nasional, Negara melayani kepentingan social kelas yang cukup kuat untuk mengontrolnya demi tujuan mereka sendiri.

Perubahan dalam Sruktur Sosial-Ekonomi dan dalam Pandangan Hidup

Perkembangan struktur social dalam menanggapi kondisi-kondisi materil yang berubah, juga perkembangan ide-ide revolusioner tergantung pada pembentukan kekuatan-kekuatan materil yang baru yang melahirkan perubahan-perubahan dalam hubungan social. Jadi perjuangan yang Nampak antara ideology revolusioner dengan ideology konservatif merupakan cerminan dari perjuangan materil antara kelas-kelas social yang mewakili kekuatan-kekuatan social materil dan kelas-kelas social yang dominasinya bersandar pada pelestarian struktur social ekonomi yang ada.

Kegiatan Dan Alienasi

Inti seluruh teori Marx adalah proposisi bahwa kelangsungan hidup manusia serta pemenuhan kebutuhannya bergantung pada kegiatan produktif dimana secara aktif orang terlibat dalam mengubah lingkungan alamnya. Dengan kata lain, individu harus menyesuaikan diri dengan dunia benda-benda yang membatasi kebebasannya sebagai manusia, walaupun manusialah yang menciptakannya.

Pengaruh Feuerbach

Teori Marx mengenai alienasi dan pengasingan diri sangat dipengaruhi oleh pembalikan Ludwig Feuerbach terhadap filsafat Hegel. Feurbach lebih konsisten daripada Marx dalam mempertahankan bahwa dunia kesadaran manusia serta ide-ide, semata-mata suatu cerminan kekuatan materil.

Meskipun teori Marx mengenai alienasi dipengaruhi oleh Feuerbach, Marx juga mengkritik Feuerbach. Khususnya, Marx mengkritik penekanan materialistis Feuerbach yang berat sebelah serta pandangannya yang ahistoris abstrak mengenai individu yang pasif, yang terpencil dari konteks sosialnya. Marx menekankan pentingnya pemahaman terhadap konteks social dan sejarah yang khas. Marx juga menekankan peranan aktif yang mungkin dimainkan individu dalam proses sejarah.

Komitmen Marx untuk mengubah dunia melalui kegiatan praksis didasarkan pada kepercayaan idealitisnya bahwa alienasi pda akhirnya dapat diatasi.

Alienasi Kaum Buruh dalam Masyarakat Kapitalis

Dengan latar belakang filsafat dialektik Hegel, Marx menarik kesimpulan dari studinya mengenai system kapialis laissez-faire. Khususnya dia menyayangkan pengaruh individualisme yang semakin menigkat serta system pasar bebasnya dalam memecah ikatan-ikatan social yang di masa lampau sudah membantu memanusiakan hubungan-hubungan ekonomi. Hasilnya adalah alienasi manusia dari sesamanya dan dari kodrat sosialnya sendiri.

Alienasi juga merupakan akibat dari hilangnya control individu atas kegiatan kreatinya sendiri dan produksi yang dihasilkannya. Ini berarti mereka tidak dapat menggunakan produk yang mereka hasilkan itu untk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Singkatnya, pekerja-pekerja dalam system kapitalis dipaksa melaksanakan pekerjaan yang tiak memungkinkan perkembangan pribadi mereka sebagai manusia dan yang merendahkan martabat mereka, dimana mereka tidak dapat menarik keuntungan, kecuali untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka saja dala arti yang sempit.

Kitik filosofis mengenai ekonomi politik dimaksudkan untuk melawan latar belakang analisa proses ekonomi kapitalis. Marx menunjukan bahwa penerapan wajar hokum penawaran dan permintaan dalam ekonomi yang bersifat impersonal itu, mengurangi pah kerja sampai ke tingkat dimana para pekerja hanya dapat sekedar mempertahankan hidup dengan bekerja dalam jumlah jam sebanyak mungkin.

Alienasi Politik

Alienasi kelihatannya benar-benar tidak dapat dielakkan dalam pandangan mengenai kodrat manusia yang paradoks. Di satu pihak manusia menuangkan potensi manusiawinya, dilain pihak produk-produk kegiatan kreatifnya itu menjadi benda yang berada di luar control manusia yang menciptakannya dan menghambat kreatifitas selanjutnya. Paradoks manusia yang fundamental ini, menjadi lebih jelek lagi di masyarakat dalam pembagian kerja dan pemilikan pribadi.

Untuk mengatasi alienasi ini, sudah melekat dalam struktur masyarakat kapitalis yang akan menuntut suatu revolusi total yang akan menghancurkan semua kontradiksi internal dalam masyarakat dengan meniadakan pembagian kerja, pemilikan pribadi, Negara dalam bentuk tradisionalnya, serta semua eksploitasi dan penindasan. Marx yakin hal ini akan mengakhiri alienasi yang memunkinkan orang untuk mengungkapkan kodrat mnusianya secara utuh dalam kegiatannya untuk mereka sendiri.

Kelas Sosial, Kesadaran Kelas, dan Perubahan Sosial

Di mana ada pembagian kerja dan kepemilikan pribadi, pasti ada pertentangan antara kepentingan-kepentingan materil dalam kelas-kelas social yang berbeda

Hubungan Ekonomi dengan Struktur Kelas

Pemilikan atau control yang berbeda atas alat produksi, merupakan dasar pokok untuk pembentukan kelas-kelas social yang berbeda.

Ada perbedaan-perbedaan penting dalam struktur-struktur kelas antara tipe-tipe masyarakat yang berbeda dalam sejarah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan variasi dalam sumber-sumber dan alat produksi.

Meslipun pemilikan atau penguasaan atas alat produksi selalu merupakan sumber mutlak untuk pembagian kelas, karakteristik khusus dari kelas-kelas yang berbeda dan sifat hubungan social antara kelas-kelas itu akan berbeda-beda dalam masyarakat yang berbeda-beda. Ada pula perbedaan-perbedaan internal gaya hidup dan bentuk kesadaran dalam kelas-kelas utama.

Pembedaan Kelas Primer dan Sekunder

Marx menolak pembedaan kelas terhadap model yang hanya terikat pada dua atau tiga kelas saja. Karena menurutnya struktur social akan terus mengalami perubahan dan variasi dalam periode sejarah yang berbeda-beda. Konstelasi kelas khusus yang dapat diidentifikasi dalam masyarakat atau dalam periode sejarah yang berbeda-beda tidak dapat dianalisa secara memadai dengan menggunakan model yang statis yang menagabaikan variasi-variasi ini.

Kepentingan Kelas Obyektif dan Kesadaran Kelas Subyektif

Yang berhubungan dengan pembedaan antara dimensi kelas subyektif dan obyektif adalah pembedaan antara kepentingan kelas. Kesadaran kelas merupakan satu kesadaran subyektif akan kepentinga kelas obyektif yang mereka miliki bersama orang-orang lain dalam posisi yang serupa dalam sistem produksi.

Kurangnya kesadaran penuh akan kepentingan kelas sangat berhubungan dengan penerimaan ideology yang dikembangkan untuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s